Labels

Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Saturday, December 3, 2044

Cerbung : Putri Air vs Pangeran Api #1




Andita tak pernah mengira bahwa dunianya akan berubah dalam waktu yang begitu singkat. ia tak pernah menduga bahwa sebuah obrolan kecil di kereta akan membawa begitu banyak perubahan pada dirinya. Andita yang kikuk, yang pendiam dan tak mau berbaur dengan orang lain, Andita yang selalu mengeluh dengan kehidupannya yang terasa tak begitu membahagiakan, Andita yang lebih senang bermain dengan dunianya sendiri daripada dunia luar. Andita yang seperti itu, kini sudah tak ada lagi pada dirinya.

Andita berdiri di depan sebuah cermin, menatap bayangan dihadapannya. tampak seorang gadis muda menatap dirinya dengan pandangan penuh percaya diri. minat besar tampak jelas di pancaran matanya. meskipun mimpi-mimpinya tak ada yang terwujud satupun Andita masih menatap pasti masa depan yang rasanya seperti sebuah teka-teki.

Sambil tersenyum penuh gairah, Andita memalingkan badannya dan menatap sebuah bingkai foto. bingkai foto yang dengan bangga dipajang ibunya di ruang tengah rumah mereka. sebenarnya Andita tak begitu senang dengan ekspresi wajahnya di foto itu. senyumnnya masih terlihat palsu. tapi sudahlah. ia lebih tertarik dengan gestur seseorang yang berdiri di belakang dirinya pada foto itu.

Tuesday, December 3, 2019

Did You Know ? R for Read & L for Love


Oleh : Veris

Ini sudah kali ketiga Risma menghapus tulisannya pada post-blog yang ingin ia buat. aroma kopi instan rasa capuccino menyeruak memenuhi ruang kerja yang terkesan dipaksakan untuk bisa menampung sekitar sepuluh sampai tiga belas orang pegawai termasuk dua meja kerja manager bagian dan seorang staf perbantuan. sesekali Risma melirik kearah jam dinding juga papan rencana kerja yang menggantung apik tepat di samping pintu masuk. sekedar mencari inspirasi. Risma merasa perlu menulis untuk membuat matanya tidak sampai terpejam karena rasa kantuk yang terus mengelayuti selepas istirahat makan siang. pekerjaannya memang sedang tidak begitu mendesak, ia punya terlalu banyak waktu luang, waktu menganggur yang kadang terasa mengasikkan tapi tidak jarang juga begitu membosankan. 

Sebelum memutuskan untuk menulis, Risma sempat membaca beberapa artikel. beberapa artikel tentang diy project yang begitu brilian dan membuat Risma berpikir untuk bisa mempraktekkannya kapan-kapan, beberapa artikel tentang cara membaca pola pikir manusia, beberapa artikel tentang kesehatan, beberapa artikel tentang design interior, beberapa artikel tentang tempat kuliah bagus di kota Bandung, beberapa artikel tentang destinasi wisata menarik sampai beberapa artikel tentang cara mengatasi rasa galau yang berkepanjangan. tulisan-tulisan yang bagus. setidaknya itu yang membuat Risma merasa terpacu untuk mulai menulis lagi. tapi kalian tahu, menulis bukanlah hal yang mudah, apalagi ketika kita tidak punya bayangan apapun tentang apa yang akan kita tulis.

Monday, May 28, 2018

Cerpen : Manusia Mubajir

Manusia Mubajir

Karya Rismayavera



Ketika Nurul memutuskan untuk pulang lebih awal hari itu, hujan justru turun dengan derasnya, bukan tanpa peringatan, langit memang sudah tampak kelabu dari siang tadi. senjapun terlihat tidak begitu menyilaukan warnanya karena disesapi awan hitam yang bergumul, kata ahli cuaca bulan ini harusnya sudah masuk musim kemarau tapi sepertinya hujan masih akan setia mampir sampai awal Romadon nanti. Satu persatu teman sejawat Nurul pamit meninggalkan bilik kerja masing-masing, seolah tidak terpengaruh oleh suara petir yang sedari tadi ramai bersautan.

Maka tinggallah Nurul berseorangan. Sepi, Nurul bergegas menyelesaikan tugasnya mengarsip beberapa catatan penting, surat-surat dan hasil kerjanya selama dua minggu terakhir.  Ia pindahkan arsip itu ke dalam sebuah folder komputer untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada yang meminta hasil kerjanya.

Sudah hampir enam tahun Nurul mengantungkan penghidupannya di tempat itu, tempat yang tidak begitu ia sukai kecuali ketika ia bisa merasa sendiri di jam-jam dhuha. Memang sudah lama Nurul berangan-angan untuk pergi dari tempat itu, sudah beberapa kali pula ia berupaya untuk pergi, tapi entah kenapa selalu ada satu dan lain hal yang membuatnya malah tetap bertahan disana.

Nurul mematikan komputernya, dirapihkan bilik kerjanya seperti yang ia kehendaki. kalau Nurul mau sebenarnya ia bisa saja pulang saat itu juga, toh ia sudah pernah menghadapi hujan yang lebih deras dari hujan hari itu dengan sepedanya. hujan yang saking lebatnya bahkan membuat kendaraan-kendaraan bermotor menepi di pinggiran jalan.

Tapi, Nurul urung melakukannya. ia sedang tidak ingin merasa dekat dengan hujan yang biasanya selalu mampu memberikannya kesejukkan. Meskipun ia tahu, jika batinnya saat ini tengah merasakan kekeringan, haus yang teramat sangat akan rasa percaya diri.

Ya, tiba-tiba ia merasa gamang, tidak tahu seperti apa dirinya, perkataan orang tentang dirinya sudah membuatnya merasa ragu bahkan pada kepribadiannya sendiri.

Nurul tidak habis pikir, bagaimana orang-orang bisa begitu "peduli" padanya, karena sejujurnya iapun tidak terlalu memperdulikan yang lain, selama ini Nurul hidup atas kehendaknya sendiri, jiwa bebas dan keras kepala yang selalu ia agung-agungkan sebagai pembuktian diri.

Ia rasa orang tidak perlu tahu rasa belas kasih yang berlimpah yang ia punya, karena ketika ia tunjukkan pun tidak semua orang akan mau menoleh padanya. orang-orang selalu peduli dengan hal-hal buruk dari orang lain, lalu menilai dengan sikap idealis mereka, berpikir bahwa segala sesuatu harus berjalan sebagaimana keharusannya, adatnya, hirarkinya.

Ya, manusia beradab memang selalu terkukung oleh etika, birokrasi dan hal-hal yang lebih banyak tidak jujur. menyembunyikan perasaan sebenarnya agar tetap bisa berpijak di tempat dimana ia berdiri, supaya diakui, dihargai dan bisa di terima.

ia lupa perasaan jujurnya, ia hapuskan rasa itu dan memilih bersembunyi di balik topeng kepura-puraan. merasa wajar dan memilih sabar. tapi apa yang membatin di dalam jiwa tidak akan sembuh dengan sendirinya, hal itu akan terus bertumpuk, saling tumpang tindih setiap detiknya sama seperti nafas yang tidak bisa lepas dari rongga dada.

Lalu Nurul merenung, melamunkan nasib dirinya yang masih saja tidak jelas arahnya, kadang ia bertanya, tidak bisakah ia absen memikirkan nasib hidupnya dan tidak perlu merasa bertanggungjawab pada masa depannya yang belum tentu esok akan ia temui.

Hanya hidup untuk hari itu, dan sibuk menikmati jutaan nikmat Tuhan yang diberi. Nikmat setiap udara yang ia hirup, nikmat setiap butir nasi yang masuk ke perut, nikmat setiap tetes air yang mengalir di kerongkongan dan mampu menghilangkan dahaganya, nikmat berkumpul dengan orang-orang yang dicintai, nikmat dari mengambil hikmah hidup para pengamen, pengasong juga orang-orang kecil yang masih sempat tertawa di tengah kekurangan, nikmat pagi hari, nikmat matahari yang mampu membuat air laut menjadi butiran-butiran garam, nikmat senja dan malam yang selalu terkesan khidmat untuknya.

Tapi tentu saja tidak,

Hal itu hanya akan terdengar bodoh dan buang-buang waktu untuk orang-orang yang berpikiran maju. orang-orang yang punya banyak rasa percaya diri, orang-orang yang yakin, orang-orang yang tahu mau dibawa kemana hidup mereka. orang-orang yang merasa perlu akan perbaikan dunia, bahwa mereka penting, bahwa mereka berarti, bahwa hidup adalah untuk hajat orang banyak, bahwa setiap langkah adalah penentu, orang-orang yang berpikiran rasional bahwa hidup perlu dipertanggungjawabkan, bahwa setiap langkah adalah pasti dan akan berakhir dengan kepastian pula.

Mati.

Lalu tinggallah Nurul sendiri, jadi bagian manusia mubajir yang diciptakan Tuhan tanpa punya makna apa-apa di dunia serba rasional ini.


Wednesday, December 6, 2017

Belahan Jiwa

True Story

Sebuah pertemuan yang biasa, kami tidak begitu saling kenal awalnya, dia seorang wanita yang ceria, sangat kontras dengan diriku yang dingin dan kaku. senyumnya manis, tapi bukanlah yang tercantik saat itu. dia menyapaku, mengajakku bicara dan bercerita banyak hal.

pertemanan bermula, ketika ia sering meminta untuk ikut pulang diatas motorku, kebetulan jalan rumah kami memang searah. satu per satu kenangan mulai terbentuk. bagaimana ia mengubah sedikit demi sedikit pandanganku. 

bukan hanya dirinya, keluarganya pun menerimaku dengan pelukan hangat. aku diperlakukan mereka layaknya keluarga sendiri. 

kehadirannya merubah sisi lain kehidupanku, kurasa dia orang yang paling mengerti akan diriku, dia perhatian dan selalu ada untukku. dia menyayangiku tanpa pamrih dan begitu pula aku menyayanginya.

mungkin terlambat, kurasa senyumnya mulai menjadi semakin manis. namun saat itu baik aku ataupun ia sudah sama-sama memiliki kekasih. jujur, aku tidak begitu suka pada kekasihnya, karena menyayanginya aku tidak ingin ia terluka. aku coba peringatkan dia. tapi kalian tahu, orang tidak akan pernah mendengar kan apapun ketika mereka jatuh cinta.

kami bertengkar, dan perkataannya melukai harga diriku. tapi rasa sayangku tidak juga mau pergi. maka satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah tetap berada disampingnya. menjadi sahabat terbaik yang ia punya. 

tahun tahun berlalu, persahabatan kami tumbuh semakin erat. bagiku ia bukan hanya seorang sahabat tapi sudah seperti belahan jiwa.

satu waktu ia berkata bahwa ia menyukaiku. aku kaget bukan kepalang. aku tidak pernah mengira bahwa kata-kata itu akan terlontar dari bibir manisnya. tapi yang janggalnya adalah aku tidak bisa menerima pernyataannya itu.

dia menangis, dan terluka. 

tapi tidak pernah pergi meninggalkanku, ia tetap berusaha untuk berada disampingku seperti aku yang selalu berada di sampingnya. 

satu waktu ia mengirimiku satu bingkisan, amplop tebal berwarna cokelat. entah apa isinya. aku tidak berani membukanya, maka kubiarkan saja bingkisan itu di dalam laci kerjaku. 

waktu berlalu, hari ini ia berjalan bersama seseorang yang lain, seseorang yang aku tahu akan tetap berada bersamanya lebih dari diriku. seseorang yang akan menjadi istimewa lebih dari diriku. senyumnya yang manis kian merekah. gemerlap lampion menyinari sekitaran kami, hatiku gentar rasa bahagia juga kekosongan menyelimutiku seketika.

rasanya campur aduk.

aku pulang ke rumah, sambil mengingat semua yang pernah terjadi diantara kami, aku menyayanginya. sayang yang teramat sangat. sepi kemudian. aku teringat bingkisan yang pernah ia kirimkan padaku, aku buka amplop tebal berwarna cokelat itu, isinya hampir seribu lembar kertas hvs. seribu lembar cerita tentang kami berdua.


Thursday, April 13, 2017

Cerpen : Menginap

MENGINAP

Oleh : Veris


          Bewok duduk sambil menikmati segelas kopi susu di sebuah warung yang berada tepat berhadap-hadapan dengan sebuah sekolah dasar. dipehatikannya suasana disana, beberapa hari terakhir ini, ramai para orangtua murid terlihat lebih awal datang ke sekolah itu untuk menjemput putra-putri mereka sepulang sekolah nanti, bahkan beberapa orang yang sepertinya sama menganggur seperti dirinya rajin menunggui anak-anak mereka di depan gerbang sekolah sampai waktu belajar usai. bukan tanpa alasan semua itu terjadi tetapi lebih dikarenakan berita hilangnya seorang anak perempuan kelas empat di sekolah tersebut secara tiba-tiba.
           Nama anak itu Melati,

Monday, August 1, 2016

Cerpen : Jiwa Yang Terusir


Oleh : Riris Rismawati 

     Setiap insan memiliki jiwa, di dalam jiwanya terserak beragam rasa, cerita, pengalaman dan impian. Saat impian datang dan menguasai seluruh jiwanya maka ia akan lupa dengan pengalamannya, cerita hidup yang mungkin telah menggoreskan luka dalam hati dan perasaannya. Impian itu terus membesar hampir-hampir dia melupakan dirinya yang dulu, dia menjelma seperti yang diimpikannya, dia nikmati hidup dalam impiannya, ia mengembara terus demi impiannya yang besar, bahagia walaupun harus berdarah-darah untuk mengejar impian tersebut……

Monday, May 16, 2016

Cerbung : Putri Air Vs Pangeran Api #11



Ada masa-masa dimana Andita merasa bahwa Gian mulai melihatnya seperti apa yang ia inginkan. Ada masa-masa dimana Andita merasa bahwa Gian juga mulai memperhatikannya,  ada masa-masa dimana Andita merasa bahwa Gian juga mulai merindukannya, bahwa ia juga ingin bisa bertemu dengan Andita seperti Andita ingin bertemu dengannya. Itu adalah masa-masa yang sangat indah dan menyenangkan.  Hari-hari terbaik yang pernah ia alami.

Tapi entah sejak kapan.

Cerbung : Putri Air Vs Pangeran Api #10


Hari berlalu, Andita coba pergi menemui teman-teman dekatnya untuk menenangkan diri. Ini adalah sebuah langkah besar untuk seseorang yang kaku sepertinya. Orang yang memang tak pandai dalam urusan cinta.  

Semua tampak tak percaya dengan apa yang dilakukannya.  Andita si kaku, Andita yang sinis, yang sulit membuka diri dan hati pada laki-laki, tak disangka sanggup melakukan hal senekat itu hanya karena seorang Gian. Sehebat itukah Gian? sampai bisa membuat Andita lupa tentang prinsipnya. Tentang tekadnya yang tak akan jatuh cinta terlalu dalam pada seseorang.

Cerbung : Putri Air Vs Pangeran Api #9



Andita sudah tidak bisa lari. Menghindarpun rasanya percuma saja. Ia tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. ia tak bisa terus-terusan membohongi dirinya sendiri. Andita mulai menyukai Gian dan berharap lebih dari sekedar teman. Itu tampak ketika ia merasa tak aman saat Gian mulai sering bercerita tentang perempuan-perempuan lain yang mendekatinya.

Aneh. Satu sisi Andita merasa lucu, kenapa begitu banyak perempuan yang tertarik padanya? Apa hebatnya Gian? Dia laki-laki paling menyebalkan yang pernah dikenalnya. Orangnya dingin dan tak perhatian sama sekali.  perempuan yang bersamanya harus punya kesabaran extra ketika menghadapi tingkah Gian yang menyebalkan itu.

Friday, April 22, 2016

Cerbung : Putri Air Vs pangeran Api #8



Tinggal sisa 2 hari 14 Jam lagi sebelum hari jadi Andita yang ke 24 tahun. huft, waktu benar-benar berlalu dengan sangat cepat. Andita benar-benar dibuat kewalahan dengan semua pemikirannya sendiri tentang jalan hidupnya selama ini. apa ia sudah benar atau justru malah semakin jauh dari tujuannya?

Monday, April 11, 2016

Cerbung : Putri Air vs Pangeran Api #7



Jarak dan waktu menjadi hal yang mahal untuk Andita. ia tak bisa sering-sering bertemu dengan Gian. satu-satunya yang bisa Andita andalkan untuk tetap terhubung dengan Gian hanya pesan singkat mereka. tapi itupun tak setiap hari terjadi, Andita sering tak punya bahasan dan Gian juga tidak terlalu aktif menghubunginya, malah kalau dihitung-hitung Anditalah yang paling sering menghubungi Gian lebih dulu.

Rasa sepi kembali menyusup, Andita tak tahu apa yang harus ia lakukan. perasaannya pada Gian masih menggantung tak terkendali. dibilang rindu, Andita tak terlalu rindu, tapi dibilang tidak rindupun nyatanya Andita selalu memikirkan Gian. 

Monday, April 4, 2016

Cerbung : Putri Air vs Pangeran Api #6



Andita tidak punya keberanian untuk bertanya tentang si wanita pemilik blog pada Gian. ia tak berani, ia takut jika Gian menyadari bahwa ada orang yang memandangnya dengan pandangan penuh kasih seperti wanita itu Gian akan menghilang dalam hidupnya. Andita ragu, biarpun Gian dan wanita itu sepertinya dekat, tapi Andita berpikir bahwa Gian tidak tahu menahu soal blog itu.

Friday, April 1, 2016

Cerbung : Putri Air vs Pangeran Api #5



Satu bulan sudah Gian pergi. harusnya kisah ini berakhir sesuai perkiraan Andita. harusnya perasaannya kembali netral pada Gian, harusnya Andita tidak terlalu berharap pada Gian, harusnya Gian sudah bukan lagi seseorang yang Andita pikirkan setiap harinya, harusnya Gian sudah bukan lagi orang yang Andita rindukan setiap harinya, harusnya semua perasaan Andita pada Gian mulai dipangkas habis. harusnya, ya harusnya seperti itu.

Tapi itu tak benar-benar terjadi. ada saja yang membuat Andita dan Gian tetap saling berkomunikasi lewat pesan singkat. satu tanda tanya yang mulai sering menganggu Andita adalah tentang wanita pemilik blog itu. laki-laki dan perempuan bersahabat? persahabatan yang bersih tanpa ada embel-embel perasaan di dalamnya? adakah? mungkinkah?

Cerbung : Putri Air vs Pangeran Api #4



Hari yang dinanti tapi juga ditakuti Andita akhirnya tiba, karena terlalu asik mengobrol bersama Gian, ia  jadi tak bisa tidur. rasa kantuknya hilang, pukul tiga pagi dan ia masih tersenyum-senyum sendiri mengenang percakapan mereka malam itu.

Monday, March 21, 2016

Cerbung : Putri Air vs Pangeran Api #3



Sesuatu yang tak bisa kita lewatkan setiap hari, seperti kebutuhan. bukankah bisa dikatakan sebuah candu? Gian menjadi candu tersendiri bagi Andita, ia tak bisa berhenti. kembali ke kehidupannya tanpa meluangkan waktu untuk berbicara dengan Gian jadi hal yang mustahil untuk Andita. setiap hari Andita selalu teringat semua perkataan Gian. entah berapa sering ia mengecek layar handphonenya hanya untuk membaca ulang obrolan terakhir mereka.

Bayangan wajah Gian yang biasa saja, jadi rajin memenuhi isi kepalanya. senyum Gian yang biasa saja entah kenapa jadi terasa manis untuk diingat-ingat. bila Gian tak membalas pesannya rasa pilu jadi memenuhi hati Andita. rasa cemburu meletup-letup dalam dada Andita kala ia melihat Gian tampak sibuk menghubungi orang lain. Perasaan apa ini?

Thursday, March 17, 2016

Cerbung : Putri Air vs Pangeran Api #2



Hari berlalu, tak tahu apa yang merasukinya. Andita tidak bisa berhenti untuk menghubungi Gian lewat pesan singkat, berbicara dengan Gian benar-benar suatu hiburan tersendiri untuknya. mungkin karena ia kesepian, mungkin juga karena Gian memang orang yang asik untuk bisa diajak bicara. Andita selalu mencari celah untuk memulai obrolan. apa saja ia jadikan alasan untuk menghubungi Gian. kadang Gian menanggapi pesan singkatnya itu tapi tak jarang pula tak ada balasan. 

Tiba-tiba ada rasa lain yang mengusik perasaan Andita, ia seperti tak punya harga diri. ia merasa seperti seorang wanita murahan yang kerjanya hanya bisa menganggu seorang pria lewat pesan singkat setiap hari. ada yang tidak beres. itu bukan dirinya. ia bukan wanita seperti itu. yakin Andita dalam hati. segera Andita putuskan untuk kembali menata sikap. sebisa mungkin ia akan tahan keinginannya untuk menghubungi Gian terlebih dulu. Hatinya berkecamuk, satu sisi ia ingin tetap bisa berbicara dengan Gian tapi di sisi lain harga dirinya menolak tindakannya itu. "tidak...tidak..tidak boleh seperti ini, ini tidak benar !" kecam Andita pada dirinya sendiri tiap ia mulai merasa ingin menghubungi Gian.

Tuesday, December 29, 2015

Another Stories : Tentang Seseorang


Dengan segala kerendahan hati 

ku persembahkan

Sebuah inspirasi yang datangnya dari hati dan semoga bisa sampai ke hati pula


tak ada sedikitpun niatan untuk meninggikan atau menjatuhkan seseorang di dalam cerita ini

semua semata-mata, merupakan kejujuran yang tak mampu diucapkan lidah 


download cerita :

Thursday, December 19, 2013

Another Stories : Mitos Cinta Sejati



Mitos cinta sejati
Apa itu cinta sejati? Pertanyaan itu sering kali muncul di dalam pikiranku, tak jarang hampir seharian kepalaku dipenuhi dengan ribuan argumen dan pertanyaan tentang bagaimana wujud cinta sejati itu.

Friday, May 31, 2013

Cerbung : Kala Kembali #4

# Sempurna

Namaku Sani, usiaku 29 tahun.  aku adalah seorang desainer sepatu,  3 tahun lalu aku putuskan untuk kembali ke Indonesia setelah hampir 5 tahun belajar dan tinggal di Paris. bekerja di salah satu brand sepatu ternama di Indonesia, dan hidup sendiri di apartemen mewah di tengah kota jakarta. aku yakin dengan keadaanku sekarang tak akan ada yang bisa mencemoohku lagi seperti dulu. 

Friday, February 8, 2013

Cerbung : Kala Kembali #3



Senja di Lapang Bola

Agita pulang lebih awal karena kejadian di ruang peralatan, Umar sendiri yang mengantarkannya saat jam istirahat dan kembali sebelum kami memulai pelajaran. Usiaku sudah hampir 29 tahun, tapi aku harus terjebak disini. Di sebuah ruangan kelas anak SMP, mengikuti pelajaran mereka, dan merasa cemburu pada anak kecil yang membantu temannya pulang ke rumah. aku pasti sudah gila.